Saya barusan usai mandi serta punya niat ngeteh diteras rumah sekalian mnghirup udara pagi yg fresh. Namun mataku lihat tante Ivone tengah asik nikmati keindahan bunga ditaman depan rumah. Dengan style ala petani bunga Cibodas, tante sarah terlihat srius mmperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa ada berpaling dari rumpunan bunga. ” Ingin saya buatin minum nda tan!? ” tanyaku 1/2 tawarkan layanan. ” Nda perlu!! ” jawabnya sambil membelakangiku. Saya tidak lihat tante sarah, Hendri atau Nita pagi hari ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.
Saya kmbali mmperhatikan tante sarah yg mmblakangiku. Dari mulai betisnya yg putih mulus mskipun terlihat kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya walau trbalut clana pendek, tetapi trlihat jelas lekukannya. ” Coba ia dapat saya tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tau-tau kulihat badan tante sarah trhuyung lemah ingin trsungkur. Secara cepat saya mloncat serta mmegangi tubuhnya yg hampir trsungkur itu, mninggalkan tersisa lamunan cabulku.
Kurangkul tubuhnya yg mulus serta trlihat lemas sekali. “Ga papah kan tan??” tanyaku penuh rasa cemas, sraya mmapah badan tante sarah. “Kpalaku trasa pusing Fad” jawab tante sarah lemah. “Ya sudah, istirahat saja didalam” saranku sekalian terus memapahnya ke di rumah. “Akhirnya saya dapat mrangkulmu sarah” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karena dapat mrangkul badan si angkuh trsebut.
Stelah brada di dalam rumah, dengan perlahan-lahan kududukan tante sarah disofa ruangan tamu. Dengan mnarik nafas tante sarah duduk serta brsandar pada sandaran sofa. Stelah itu saya mengambil langkah mninggalkannya sendiri. Tidak brapa lama saya kembali dngn sgelas air hangat serta mnghampiri tante sarah yg tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dahulu tan, agar lebih enak!” ujarku sekalian mnyerahkan gelas brisi air hangat yg kubawa. Tante sarah juga mminum air hngt yg kuberikan. “Makasih ya Fad” katanya lemah sekalian mletakan gelas dimeja yg ada didepannya.
“Kpalanya masih pusing gak tan!?” tanyaku. Tante sarah cuma mnganggukan kpalanya. “Mau dipijatin gak!?” tanyaku . “E, em” jawab tante sarah prlahan seolah tengah mnahan sakit. Saya juga sgera memijat dari mulai kpalanya dngn prlahan tempat, kmudian dahinya yg ia katakan mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” bertanya Nita yg barusan pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, kpalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu lelah kali!? ” tutur Nita sekalian mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante sarah dngn mata terpejam, nikmati pijatan pijatan jariku. Berasa hangat dahinya brsamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku. Harum aroma badan tante sarah trasa mnusuk ke-2 lobang hidungku. Mmbuat saya ingin lebih lama memijat serta dekat dngnnya.
“Mkata kasark angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing supaya niatku terwujud. “Iya kali? “ujarnya juga, seolah mngerti akan makna ucapanku. Membuatku semakin brani lebih jauh. “Mau dikerikin gak!?” tanyaku dngn penuh haraf padanya. “Memang kamu dapat!?” tante sarah balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tidak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, takut tante sarah brubah fikiran . “Ya sudah, namun dikamar ya…, gak enak disini” pinta tante sarah. Mmbuat hatiku brdebar semakin cepat. Dengan prlahanku papah ia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha bagi meredam serta menentramkan hatiku. Yang mulai dirkata kasarki kemauan serta fikiran kotorku.
Sesudah brada di dalam kamar, kusarankan supaya ia istrahat diranjangnya. Tante sarah juga mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seakan-akan ada beban berat yg dibawa. Saya sgera brlalu mngambil obat gosok serta coin bagi mengerik badan tante sarah. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, saya kembali mnghampiri tante sarah yg tengah menunggu. Dengan mmbranikan diri saya memintamya supaya ia mlepaskan baju yg dipakainya. Ia juga prlahan melepas baju atau pakaian yg dipakainya. Shingga tante sarah sekarang cuma mngenakan bra yg brwarna pink serta clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, waktu melihat tante sarah mmbuka pakaiannya. Sampai mmbangunkan kjantanan serta udara hasratku. Yang memang sudah mngendap dibenakku semenjak awal, saat memprhatikan ia ditaman.
Dengan prasaan yg tidak mnentu serta dibayang-bayangi hasrat dibenakku. Akupun mulai mngusap …
..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali. “Tali branya dibuka saja ya tan??” pintaku pnuh haraf sekalian trus mngusap serta mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Meredam kerikan dipunggungnya, entahlah sakit atau geli saya tidak tahu. Yang tentu tanganku sgera melepas kait tali branya, hingga mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian bagian tubuhnya yg bundar serta berisi. Sperti bagian tubuh punya gadis umumnya. Stelah tanpa penghambat dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Serta jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante sarah.
Sekalian sekali kali mataku melirik mengarah bagian tubuhnya yg brusaha tertutupi dngn bra serta ke-2 tlapak tangannya. Namun hal trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat. Smentara tante sarah cuma trdiam sraya mmejamkan matanya yg bundar serta indah. ” Perlahan perlahan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam. Tau-tau pintu kamar prlahan terbuka, terlihat Nita tengah brdiri didepan pintu. “Tan saya mo kerumah tman dahulu ya!?” tutur Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante sarah tanpa ada brpaling kearahnya. Kmudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali serta brlalu pergi.
Jari tanganku mulai nakal trhadap pekerjaannya, jariku trkadang nyelinap di bawah ketiaknya brusaha mendapatkan benda yg bundar serta padat brisi yg ditutupinya. Namun tangan tante sarah kadang brusaha mnghalanginya, dngn rapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Fad!? ” sebut tante sarah stengah berbisik sambil mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis gak kuat sih, tan…” jawabku jujur. Namun tante sarah justru melepas branya shingga sekarang bagian tubuhnya terlihat polos tanpa ada plindung .
Serta langsung jadi makanan ke-2 mataku tanpa ada brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan panorama trsebut. “Sekarang dapat kamu plototin pe senang dech!!” tutur tante sarah tidak mnutupit buah dadanya dngn ke-2 tlapak tangannya . Jantungku trasa bgitu cepat brdetak serta mmbuat lemas sluruh prsendianku. kata kasarku brlahan namun tentu mulai brdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.
“Memang dah usai ngeriknya Fad!?” tegur tante sarah mngingatkanku. Mmbuat saya sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sekejap. Hampir sluruh sisi belakang badan tante sarah sudah kukerik serta brwarna merah brgaris garis. Cuma sisi bokongnya yg lepas dari kerikanku karena trhalang dngn clana pendek dan CD yg dikenakannya. Namun belahan bokongnya sudah senang kuplototin.
Pada akhirnya pekerjaanku usai juga. Selanjutnya dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante sarah mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, supaya saya mnyudahi pijatanku.
Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku serta sgera mmbrsihkan tersisa sisa minyak dikedua tlapak tngnku. ” Bersihkan tanganmu dahulu agar bersih sana!!” pinta tante sarah skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang benar ada di dalam kamar trsebut. Stelah selesai mncuci sluruh tanganku sampai bnar bnar bersih. Akupun kembali mendekati tante Ivon yg tengah telentang di atas ranjang masih dngn kondisi sparuh tanpa busana. Sperti waktu saya meninggalkan kekamar mandi. Sampai bagian tubuhnya yg bundar serta brisi terlihat mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu. “Ayo Fad, kamu ingin mainin ini kan!?”. “Aku ingin kok!?” sebut tante sarah sekalian mremas satu diantara bagian tubuhnya sampai putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan hasrat. Membuat kata kasarku semakin brdiri serta mngeras kencang di balik clanaku.
Akupun tidak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi bagian tubuhnya yg mnantang. Tante sarah brgelinjang waktu tlapak tanganku mndarat serta meremas ke-2 bagian tubuhnya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku semakin liar mremasi sluruh daging bundar yg padat brisi. JariQ mainkan putingnya yg mulai mngeras. ” Iya,.., mari diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante sarah dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati serta mengisapi puting bagian tubuhnya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante sarah sraya mmegangi kpalaku. Saya smakin brhasrat dngn puting yg kenyal sperti urat serta mnggemaskan. Smentara tante sarah smakin mndesah tidak karuan. Tangan kananku melaju mengarah slangkangan di bawah pusar, trus mnyusup mkata kasark antara clana serta CD tante sarah. Sampai jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat didalamnya. Tante sarah mmbuka pahanya tidak saat jari tlunjukku brusaha mkata kasark dalam lobang yg ada ditengah-tengah bulu bulu halus kepunyaannya. “Aowww…” jerit kecil tante sarah waktu tlunjukku brhasil mkata kasark lobang organ intimnya. Ia juga mnggeliatkan tubuhnya penuh hasrat hasrat. Smentara kata kasarku smakin mngeras akan kluar berbahan yg mnutupinya.
Lumayan lama jari tlunjukku kluar mkata kasark di dalam organ intim tante sarah, sampai lobang itu mulai trasa basah serta lembab. Hingga kemudian tangan tante sarah meredam pergerakan tanganku serta mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante sarah. Akupun menarik tanganku dari balik clananya serta mlepaskan putingnya dari mulutku.
“Buka pakaianmu dong, Fad!!” hebat tante sarah sraya bangun serta mlepaskan clana pendek dan CDnya. Shingga ia tanpa busana serta terlihat rumput hitam ditengah-tengah slangkangannya yg barusan ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku serta tanpa busana sperti dianya.
Dengan senyum manis kearahku, tante sarah mendekat serta brjongkok pas dimuka slangkanganku. “Aouw, gede sekali..!!” hebat tante sarah sraya tlapak tangannya mraih kata kasarku yg sudah brdiri serta keras. Dngn tangan kanan ia mmegang erat batang kata kasarku, sedang tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Sampai kpala kata kasarku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimkata kasarkan kata kasarku dalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tidak saat sluruh kata kasarku tnggelam mkata kasark dalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Saya cuma bisa memegangi kpala tante …
…sarah, mremas dan mngusap usap rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante sarah smakin liar, sbentar mngulum serta mngemud seolah ia ingin melumat sluruh kata kasarku. Trnyata ia lebih buas dari tante Rita. Trkadang ia mnjilati dari batang sampai lobang kencing dikpalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku meredam rasa nikmat yang tramat. Trasa tubuhku melayang-layang jauh tidak menentu.
Entahlah brapa lama tante sarah mngemut, mnjilat serta mngulum kata kasarku. Yg jelas ini mmbuat tubuhku brgetar serta hampir kejang. ” Gantian dong tan, aQ ingin jilatin organ intimmu! ” rengekku, hampir tidak dapat mnahan hasratku. Ingin rasa-rasanya memuntahkan keluar sekitar banyak. Supaya tante sarah mandi dngn air maniku.
Tante sarah sgera bangun brdiri tinggalkan kata kasarku yg masih brdiri tegak. Kmudian saya mminta supaya ia duduk dikursi tanpa ada lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap organ intimnya yg dihiasi bulu lebatnya. Ke-2 kaki tante sarah trtumpu pada ke-2 bahuku. Karena itu mulutku mulai mnjarah organ intim yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, sampai terlihat jelas lobang organ intim yg brwarna merah serta lembab. Lidahku mulai mnjelajahi serta mnjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante sarah waktu lidahku brmain mnjilati lobang organ intimnya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya juga sekalian mremas serta mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin liar serta brusaha mkata kasark lebih dalam . “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante sarah tidak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang organ intim, sekarang brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah serta basah dngn air mazinya serta air liurku.
“Aughh…..” suara tante sarah sperti tersedak sekalian mrapatkan ke-2 pahanya, sampai mnjepit leherku, saat ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” sebut tante sarah lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante sarah sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.
Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante sarah serta bangun brdiri didepannya dngn kata kasar yg masih tegak serta keras. Selanjutnya mminta tante sarah supaya bangun dari duduknya. Sekarang saya yg mnggantikan tempatnya duduk dikursi.
Tante sarah naik keatas pahaku serta tubuhnya mnghadap kearahku, sampai badan kami sama-sama brhimpitan. Kmudian tante sarah mmbimbing kata kasarku mkata kasark kelobang organ intimnya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante sarah saat kata kasarku mkata kasark menyerang organ intimnya. Tidak lama kmudian bokongnya mulai naik turun, mngesek gesek kata kasarku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya naik turun. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante sarah tidak karuan bila tubuhnya turun mnenggelamkan kata kasarku diorgan intimnya.
” Aauwww, saya gak tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante sarah sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat bagian tubuhnya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante sarah sekalian mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan desakan pantat tante . “Aaaachhhh…….” pada akhirnya saya tidak dapat mmbendung cairan kental dari dalam kata kasarku. Kamipun sama-sama brpelukan dngn erat sesaat dngn brcampur peluh masing masing.
Stelah lumayan lama kami brpelukan, kamipun bangun dngn malas, malas branjak dari situasi yg ada. Stelah itu kamipun mandi mmbrsihkan badan kami masing masing yg basah dngn peluh syurga.
Pada akhirnya saya dapat menidurimu serta menaklukan keangkuhanmu tante sarah.