Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Fonny. Melihat ini Fonny berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Suwandi secepat kilat mencengkram erat kepala Fonny dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Fonny, dengan tubuh yang bergetar Fonny hanya bisa memejamkan matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu. Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh tangan Suwandi. “Ahhh….perkenalkan rudal gue ini sayang…..akhhh….” ujarnya sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Fonny, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang kemaluannya itu Suwandi tengah menikmati kehalusan wajah Fonny. “Hai cantik !….sekarang sudah kenal kan dengan kata kasar gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama ****** gue ini….”, sambungnya.
Setelah puas dengan itu, kini Suwandi mendorong tubuh Fonny hingga kembali terjatuh kekkata kasarrnya. Sejenak dikaguminya tubuh Fonny yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Suwandi, apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat. Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh…mmhhh…”, sepertinya Fonny ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa perdulinya paling-paling cuma permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Fonny menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kkata kasarr. Kedua tangan kasar Suwandi itu kini mengusap-usap bagian pantat Fonny, dirasakan olehnya pantat Fonny yang sekal. Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal “Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Suwandi sambil terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Fonny.
Fonny hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Suwandi secara perlahan-lahan mengusap kaki Fonny mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup mkata kasark kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya. Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Suwandi, yaitu jari tengahnya menyusup mkata kasark kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Fonny agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Suwandi tadi langsung menusuk lobang kemaluan Fonny. “Egghhmmmmm…….”, Fonny menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Suwandi mkata kasark kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Fonny pun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika Suwandi memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Fonny. Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Fonny, sementara itu badan Fonny menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu “Ehhmmmppphhh….mmpphhhh…..”.
Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Fonny pun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Suwandi kemudian mencabut jarinya. Tubuh Fonnypun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Fonny kini tanpa busana. Terlihat oleh Suwandi, kemaluan Fonny yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu. Dengan berhasratnya direntangkan kedua kaki Fonny hingga mengangkang setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah Fonny semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Suwandi bersiap-siap melakukan penetrasi ketubuh Fonny. “Hmmmmpphhh……….hhhhhmmmmppp…. ..”, Fonny menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Suwandi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Fonny.
next => https://pastee.xyz/c6uDJVh